WNA asal China berka di Batam

Granat – Opini : Dengan kemujaan kota batam sekarang yang tergolong kota maju tercepat di indonesia membuat warga negara asing berani masuk ke batam menetap di batam untuk mencari Suaka.

Salah satu kita melihat yakni negara tirai bambu (Tiongkok ) sangat banyak di kita batam untuk bekerja sebagai kontruksi mega proyek Kepri.

Maju nya kota batam juga pesat pertumbuhan ekonomi membuat earga tiongkok berlomba lomba untuk mencari Suaka di kota kecil tang berpenduduk padat ini.

Mereka slalu dominan bekerja di bagian kontruksi mega proyek sepwei pembangun jalan, pembangun Hotel dan Arpertemen.

  • Siapa yang membawa mereka ke kota Batam ????
  • Apakah mereka berijin untuk bekerja di kota Batam ????
  • Kenapa tidak warga negara indonesia sendiri yang bekerja di proyek tersebut ????

Siapa yang membawa mereka ke kota batam ?

Para tenaga ketjs Tiongkok yang berada di batam mungkin sata meteka melalui agency yang ada di indonesia.

Dengan kata lain mereka melalui penyalur agen TKA untuk di pekerja kam di Batam.

Mereka pasti mempunyai agen di vatam ini agar meteka bisa masuk batam dan bwjwrja di batam.

Apakah mereka berijin untuk kerja di batam?

Nah masalah berijin atau tidak mungkin Disnaker ( Dinas pekerjaan Kota Batam ) mereka lebih mengetahui permadalahan ini apakah imigran tiongkok yang bekerja di batam ini ada ijin nya atau tidak.

Kenapa bukan warga sebdiri yang kerja di batam

Ini dia yang perlu kita ketahui, bukan kah penduduk indonesia masih banyak yang tidak bekerja ( pengangguran ) unun para perantau yang sudah menetap di Batam.

Kehadiran tenaga kerja asing (TKA) China di tanah air tidak menimbulkan rasa ketidakadilan dari segi keterampilan, tapi juga dari pendapatan.

Dijelaskan Marwan Batubara, meskipun bekerja di Indonesia, gaji TKA China lebih besar signifikan dibanding gaji pekerja pribumi.

“Hal ini mengusik rasa keadilan, sekaligus menghina rakyat Indonesia,” tegasnya.

Dia mengambil contoh pada smelter Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI), persebaran gaji bulanan sekitar 27 persen TKA menerima Rp 15 juta hingga Rp 20 juta; 47 persen menerima Rp 21 juta hingga Rp 25 juta; 16 persen menerima Rp 26 juta hingga Rp 30 juta; 5 persen menerima Rp 31 juta hingga Rp 35 juta, dan 4 persen menerima 36 juta hingga Rp 40 juta.

“Hal hampir sama terjadi pada smelter OSS. Mayoritas TKA lulusan SD, SMP dan SMA. Namun memperoleh gaji besar dengan sebaran antara Rp 15 juta hingga Rp 35 juta,” ujarnya.

Untuk jenis pekerjaan yang sama, sambung Marwan, gaji TKA China ini jauh di atas gaji pekerja pribumi lulusan SD hingga SMA yang hanya berkisar antara Rp 4 juta hingga Rp 5 juta, sudah termasuk lembur.

“Nasib pekerja lokal dan nasional di smelter-smelter milik China dan konglomerat oligarkis memang tragis.

Sudahlah kesempatan kerjanya dibatasi atau dirampok TKA China, gajinya pun umumnya super rendah dibanding gaji TKA China! Kita terjajah di negeri sendiri,”